XIII CARA CEPAT DAN CERDAS MENYUSUN SKRIPSI
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang
diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian
mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa
yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi
buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.
Saya juga
sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan
baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu
dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara
berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.
Karena target
pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih
memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan
terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan
saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response
rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi
hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.
13.1. APA ITU
SKRIPSI
Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).
Ada
beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis
skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri,
tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa
harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif
semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum
“berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk
mempersiapkan segalanya sejak awal.
Skripsi
tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen
pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan
penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan
terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).
Skripsi
juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3
memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk
tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah
ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1,
skripsi adalah “belajar meneliti”.
Jadi,
skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu
disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.
13.2.
MISKONSEPSI TENTANG SKRIPSI
Banyak
mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa
dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi
adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang
baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat
kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali
terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan
skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.
Masalah
yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor
ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran
mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan
menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk
menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk
mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.
Hal
lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi
dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan
naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai
struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga
menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist
approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk
menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan
metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.
Mana
yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu
dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain
(komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang
satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu
kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih
baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.
13.3. HAL-HAL
YANG PERLU DILAKUKAN
Siapkan
Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan
dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi.
Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus
ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.
Minta
Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada
duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka
dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan
konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian
dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar.
Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk
menyelesaikan skripsi.
Buat
Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi
tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai
kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda
melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah
benar-benar selesai.
Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif.
Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung
skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar
atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.
Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda.
Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen
pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan
bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.
Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi.
Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta
Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji
untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa
bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa
sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan
hal-hal yang demikian itu.
Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu
membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah
buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu
atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda.
Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu
Anda.
Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan
(dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya
cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi
responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan
sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana.
Ironis kan?
13.4.
TAHAP-TAHAP PERSIAPAN
Kalau
Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan
judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat
dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah
begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena
segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.
Sayangnya,
kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas
mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal.
Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
Idealnya,
skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester
tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih
topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan
informal.
Dalam
mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur
kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal
top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi
jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup
berkualitas.
Unsur
kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan
lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik
lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat
mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.
Kedua,
jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada
referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan
menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh
lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.
Salah
satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja
proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara
garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan
menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar
jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan
ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang
bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius
dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.
13.5. KIAT MEMILIH DOSEN PEMBIMBING
Dosen
pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda
benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas
mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada
dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada
pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan.
Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu
elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.
Tiap
universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini.
Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga
universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja
lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi
Anda.
Lalu,
bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?
Secara
garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen
junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar
doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya,
dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master,
dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.
Tentu
saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai
contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan
mengalami kesulitan sebagai berikut:
· Proses bimbingan cukup sulit,
karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
· Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena
umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.
Tapi,
keuntungannya:
· Kualitas skripsi Anda, secara
umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
· Anda akan “tertolong” saat ujian
skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih
junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
· Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan
mendapat nilai A.
Sebaliknya,
kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama
proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena
jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim”
dan “sok” kepada mahasiswanya.
Tapi,
kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi.
Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa
dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak
berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.
Jadi,
hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.
13.6. FORMAT
SKRIPSI YANG BENAR
Biasanya,
setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil
penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas
dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi,
secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai
berikut.
Pendahuluan.
Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi
penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui
penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.
Pengkajian
Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah
latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan
dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align
juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal”
menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make
sense dan nggak nyambung.
Metodologi
Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan,
pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi
data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan
sebagainya.
Hasil
Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis,
biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan
reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.
Penutup.
Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian
harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan
begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat
dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang
mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari
keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.
Jangan
lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading
dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun
ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan
untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa
melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak
kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang
tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).
13.7. BEBERAPA KESALAHAN PEMULA
Ketidakjelasan
Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian.
Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan
tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak
mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi
sama sekali sulit untuk dipahami.
Tujuan
Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai
salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya.
Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji,
mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan
untuk mendapatkan gelar S1.
Bab
I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa
bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak
yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata
salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab
I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan
secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya.
(baca juga: Joint Hypotheses)
Padding.
Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang
menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun
sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja.
Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam
skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar
acuan.
Joint
Hypotheses. Menurut
pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena
yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian
ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan
memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah
metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya
terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya,
kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai
dan dicecar habis-habisan.
Keterbatasan
& Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara
keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang
terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan
kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau
sempitnya waktu.
Kontribusi
Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan
untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset
selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang
akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian
yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi
riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.
13.8.
MENGHADAPI UJIAN SKRIPSI
Benar.
Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral
examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi
ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri
tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang
pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.
Setelah
menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji.
Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota
penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah
akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji
secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi
yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga
1 jam.
Ujian
skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh
mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak
semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses)
saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.
Grogi,
cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya
tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi
adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan
sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di
ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.
Cara
terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang
Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan
tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang
jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja,
Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding
di hadapan dewan penguji.
Juga,
ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan
sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.
Jujur
saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala
dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor
dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih
banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya
mendapat nilai A.
Bukan.
Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya
bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.
13.9. PASCA
UJIAN SKRIPSI
Banyak
yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke
tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan
teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda
sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.
Faktanya,
lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa
melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?
Cara
paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian
dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin
serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi
Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak
penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa
ini.
Bukan
apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam
menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang
tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat
publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar
ketertinggalan.
Jadi,
menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan
SUMBER :
http://nofieiman.com/2006/09/cara-cepat-menyusun-skripsi/






0 comments:
Post a Comment