Media Informasi baru

Blibli
News Update :
Blibli

Pages

PPC Iklan Blogger Indonesia

Anak terlahir dalam keadaan Fitrah [Islam]

Thursday, December 6, 2012

 
Seperti telah dijelaskan di pembahasan yang lalu, bahwa ada sebagian dari
kelompok-kelompok tertentu yang mensyaratkan anggotanya untuk di-Islam-kan
kembali (menurut pandangan mereka) dengan mengucapkan dua kalimat syahadat
sebelum memasuki kelompoknya (seperti kasus pertanyaan di atas), walaupun kita
melaksanakan shalat, puasa, zakat dll dengan alasan karena Islam-nya kita ini
adalah Islam turunan (menurut pemahaman mereka), yang belum mengenal Rubbubiyah
Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Padahal sebenarnya hadits tersebut merupakan penjelasan berkenaan dengan Tauhid
Rububiyah, yang mana bentuk tauhid semacam ini tidak pernah disanggah oleh
kelompok manapun dari anak cucu Adam 'Alaihi As-Salam.


Dan hal ini juga, sudah dijelaskan oleh Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy edisi
Indonesia Kitab Tauhid 1 bahwa :

"Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan
mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh
kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang
menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah
pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya
dalam kesesatan dan penyimpangan".

Secara sederhana, akan saya akan ambilkan permisalan yang sekaligus juga
menjawab sebuah pertanyaan :

>Terus bagaimana dengan anak yang terlahir dari keluarga non muslim,
apakah sama kedudukannya seperti anak yang lahir dari keluarga muslim ?.

Kedudukan anak tersebut adalah sama sebagaimana hadits :

"Artinya : Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ayah dan
ibunya-lah yang akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nashrani ataupun
Majusi" [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari 1358, Muslim 2658, Ahmad II:393, Malik
I:241, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu]

Supaya mudah dipahami akan saya berikan contoh (dan mudah-mudahan tidak keliru,
dan apabila ada kekeliruan mohon dikoreksi) :
Jika anak itu lahir dari ayah dan ibu Islam, maka anak tersebut yang sudah
terlahir dalam keadaan fitrah [Islam]dengan sendirinya akan diajarkan dan di
didik menjadi seorang yang beragama Islam oleh orang tuanya, begitupun jika
anak itu lahir dari ayah dan ibu Nashrani, Yahudi atau Majusi, maka anak
tersebut [yang terlahir dalam keadaan fitrah (Islam)] akan diajarkan dan
dididik mengikuti agama bapaknya dan ibunya dalam kesesatan dan
penyimpangannya, hal ini terjadi karena bimbingan yang menyimpang dan
lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi.
Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan
penyimpangan".

Begitu juga, jika seorang anak terlahir dari ayah dan ibu Islam, kemudian
pengasuhan dan pendidikan agamanya sejak anak itu lahir diserahkan kepada
keluarga Nashrani atau Yahudi (misalnya, dan mudah-mudahan ini tidak terjadi),
maka dengan demikian anak tersebut [yang terlahir dalam keadaan fitrah (Islam)]
akan diajarkan dan dididik mengikuti keluarga Nashrani atau Yahudi dalam
kesesatan dan penyimpangannya, hal ini terjadi karena bimbingan yang menyimpang
dan lingkungan yang menyebabkan berubahnya pandangan si anak (bayi).

Kemudian sebaliknya, jika seorang anak terlahir dari ayah dan ibu Nashrani atau
Yahudi, kemudian pengasuhan dan pendidikan agamanya sejak anak itu lahir
diserahkan kepada keluarga Islam, maka dengan demikian anak tersebut yang
memang sudah dalam keadaan fitrah [Islam] dengan sendirinya akan diajarkan dan
di didik menjadi seorang yang beragama Islam. wallahu 'alam.

Adapun untuk lebih jelasnya maksud dari hadits tersebut, akan saya salinkan
secara ringkas dari kitab TAHDZIB Syarh Ath-Thahawiyah Dasar-dasar Aqidah
Menurut Ulama Salaf yang ditulis oleh Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi, dimana
hadits tersebut diatas berkenaan dengan Tauhid Rububiyah, yang mana bentuk
tauhid semacam ini tidak pernah disanggah oleh kelompok manapun dari anak cucu
Adam 'Alaihi As-Salam.

PENGERTIAN TAUHID AR-RUBUBIYAH
Tauhid Ar-Rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta segala
sesuatu. Bahwa alam dunia ini tak pernah memiliki dua pencipta yang
berseteru dalam karakter dan perubahan. Bentuk tauhid semacam ini tidak
pernah disanggah oleh kelompok manapun dari anak cucu Adam Alaihi As-Salam.
Sebaliknya hati mereka secara kodrati telah diciptakan untuk mengakui tauhid
itu. Sebagaimana dinyatakan oleh para Rasul dan dinukil dalam Al-Qur'an.

"Artinya : Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi
?" [Ibrahim : 10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda.

"Artinya : Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ayah dan
ibunya-lah yang akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nashrani ataupun
Majusi" [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari 1358, Muslim 2658, Ahmad II:393, Malik
I:241, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu]

Tidaklah dapat dikatakan, kalau makna hadits tersebut adalah bahwa manusia
dilahirkan dalam keadaan lugu, tidak kenal arti tauhid, tidak juga mengerti
apa arti syirik. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
meriwayatkan dari Rabb-Nya 'Azza wa Jalla.

"Artinya : Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus. Lalu
datanglah setan membelokkannya dari kebenaran" [Diriwayatkan oleh Muslim
2865, Ahmad IV : 162,163,266 dari hadits 'Iyyadh bin Himar Al-Mujasyi'i]

Dan di dalam hadits yang terdahulu, juga terdapat hal yang menjelaskan
perkara itu (fitrah manusia). Karena Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam
bersabda : "(Kedua orang tuanyalah) yang menjadikan dirinya orang Yahudi,
Nashrani ataupun Majusi". Nabi tidak menyabdakan : "... dan dirinya sebagai
Muslim".

Manusia yang paling terkenal dengan kepura-puraan dan sikap berlagak
bodohnya, dengan mengingkari Sang Pencipta adalah Fir'aun. Padahal ia
meyakini semua itu dalam hati. Musa berkata kepadanya : "Musa menjawab :
"Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan
mu'jizat-mu'jizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai
bukti-bukti yang nyata ..." [Al-Isra : 102]

Allah berfirman menceritakan diri Fir'aun dan kaumnya.

"Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan
(mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya..." [An-Naml : 14]

[Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah-1, hal 54-55, Pustaka At-Tibyan]
------------------------------------------------------------------------




Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

PPC Iklan Blogger Indonesia
 

© Copyright Shelintas ID 2010 -2011 | Design by Anton Sitya | Published by ILmuKita_Pacitan Templates | Powered by Blogger.com.